Dihadapan Wakapolda Jabar, Ketua GGTP Covid-19 Akui Kota Bogor Sebagai Zona Merah Resiko Tinggi -->

Adsense




Dihadapan Wakapolda Jabar, Ketua GGTP Covid-19 Akui Kota Bogor Sebagai Zona Merah Resiko Tinggi

87 Online News
Selasa, 29 September 2020

KOTA BOGOR - Kota Bogor, Jawa Barat, saat ini berada di zona merah (Resiko Tinggi), karena angka kesembuhan covid-19 di bawah 1,8%, serta status zona merah yang juga terlihat dari data 14 indikator penyebaran covid-19 yang dilakukan selama masa inkubasi 14 hari.

Hal itu diungkapkan Wakil walikota Bogor sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GGTP) Covid-19 Kota Bogor, Dedie A Rachim saat menerima kunjungan Wakapolda Jawa Barat, Brigjen Pol Drs Eddy.S dalam rangka pengecekan kesiapan Gugus Tugas dalam penanganan Covid-19 di Kota Bogor, di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bogor, Jl. Raya Pajajaran Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor, Selasa, (29/9/2020).

"Tingkat penyebaran Covid-19 di Kota Bogor memang cukup tinggi, karena tidak dipungkiri bahwa Kota Bogor sebagai penyangga Ibu Kota dan kasus covid-19 terjadi berasal dari luar Kota (kategori imported)," ungkap Dedie A Rachim dihadapan Wakapolda Jabar berserta jajaran Forkopimda Kota Bogor.

Menurutnya, berdasarkan data badan pengelola jalan tol, bahwa mobilitas kendaraan di Tol jagorawi mencapai 200.000 kendaraan keluar masuk Kota Bogor atau sekitar 20% dari total penduduk Kota Bogor.

"Cluster keluarga menjadi salah satu penyumbang cluster covid-19 terbesar walaupun saat ini pemerintah masih meliburkan sekolah, dan berharap anak-anak aman dari penyebaran Covid-19. Tetapi penularan masih terjadi yang mana penularan tersebut berasal dari kepala keluarga yang bekerja atau keluar masuk Kota Bogor, khususnya DKI Jakarta," tuturnya.

Dedie menjelaskan, saat ini Kota Bogor hanya memiliki 3 Rumah Sakit dari total 21 Rumah Sakit (RS) rujukan yang menangani pasien Covid-19 dengan kategori berat, tingginya jumlah okupansi RS karena di isi dengan pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) mengingat keterbatasan sarana dan prasarana isolasi mandiri yg di miliki masyarakat untuk pasien OTG.

"Terkait penyediaan hotel sebagai sarana kamar isolasi pasien OTG, kami sudah mendapatkan tawaran dari pusat. Tetapi ada salah persepsi, yang mana satgas nasional membiayai per orang setiap pasien masuk hotel sehingga pemerintah Kota Bogor merasa keberatan dan sampai saat ini belum ada kesepakatan masih dalam pembahasan, sementara 122 bed telah disiapkan untuk pasien OTG oleh BNN di wilayah Lido, kabupaten Bogor, apabila terjadi lonjakan kapasitas kamar, maka pemerintah akan mempersiapkan alternatif lokasi perawatan di lapangan RS Marzoeki Mahdi," papar Dedie A Rachim.

Sementara itu, lanjut Dedie, berdasarkan data dari Provinsi Jabar diperkirakan sampai januari 2021 akan mengalami lonjakan sampai 72.000 orang terpapar covid-19 apabila sekolah di buka dan tidak ada kebijakan pembatasan - pembatasan dari pemerintah.

"Terkait banyaknya status OTG di Kota Bogor, di akibatkan keterlambatan hasil Swab dan kewajiban Pemkot Bogor untuk melakukan cek lab covid -19 di Labkesda Jabar dan Balitbangkes, maka harapannya ke depan dari pemkot memiliki PCR sendiri, walaupun dengan harga yang mahal tetapi bisa digunakan untuk memudahkan pengecekan kasus covid-19 dan mempercepat proses tracing," katanya.

Terkait hal itu, Pihaknya berharap, Polda Jabar bisa mendorong untuk sektor cluster perkantoran bisa di terapkan dan diketatkan protokol kesehatan dengan membentuk tim khusus pengawasan, mengingat kantor salah satu penyumbang cluster penyebaran covid-19. Data kematian berdasarkan komorbid lebih tinggi sekitar 36 atau 80,0% sementara non komorbid sekitar 9 org atau 20,0%.

"Untuk mengindari kepanikan di masyarakat, pemerintah pusat membatasi input data jumlah kasus covid-19, ketika tim surveilance yang bergerak di lapangan hanya bisa menghasilkan tracing sekitar 4-5 org saja, sementara semenjak ada detektif covid-19 hasil tracing melonjak tinggi mencapai 14 sampai dengan 15 orang. Cluster terbesar yang pernah terjadi di Kota Bogor, adalah cluster Semplak, dimana kasus konfirmasi ditemukan sebanyak 13 org dalam satu keluarga dan perawatan di bagi 3 RS antara lain 3 orang di RSUD Kota Bogor, 5 orang di RSMM dan 5 orang di rawat di RS Kabupaten Bogor," tukasnya. (Ib)

Sumber : Paur Humas Polresta Bogor Kota