Pasca Wabah Covid-19 Merajalela, Jeruk Lemon Jadi Primadona Di Pasar Tradisional



Pasca Wabah Covid-19 Merajalela, Jeruk Lemon Jadi Primadona Di Pasar Tradisional

87 Online News
Kamis, 02 April 2020

KOTA BOGOR - Merebaknya wabah virus corona di Indonesia, khususnya di Kota Bogor, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah memberlakukan jam oprasional tempat perbelanjaan atau pasar sejak tanggal 30/03/20, yakni mulai pukul 14.00 wib sd 20.00 WIB. Hal tersebut tidak menyurutkan antusias kunjungan masyarakat untuk membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Seperti di Pasar induk Jambu Dua, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Pantauan media di pasar tradisional itu, terlihat jelas keramaian pengunjung yang di dominasi kaum ibu-ibu memadati kios-kios buah dan kios sembako.

"Kalau situasinya tidak hujan seperti sekarang ini, pembeli justru membludak dan mayoritas pengunjung pasar ini yang di cari adalah jeruk. Terutama jeruk lemon yang mengalami kenaikan dan sangat diminati karena sangat cocok untuk pencegahan virus corona. Selain itu, buah naga, pisang ambon, jambu merah dan pepaya masih memiliki daya jual yang fantastik," ungkap Tono, salah satu pemilik kios buah, kepada wartawan, Kamis (2/4/2020).

Tono memaparkan, harga jual jeruk lemon california, sebelum merebaknya corona harga per kilo Rp 30.000, sekarang menjadi Rp 60.000 sd Rp 65.000 perkilonya dan mendominasi angka tertinggi dalam penjualan.

"Jeruk lemon California masih mendominasi angka tertinggi dalam penjualan di kios kami. Kebanyakan untuk konsumsi sendiri, biasanya dahulu cuma stock 30 kg dalam seminggu, sekarang malah dua kali pengiriman dalam seminggu dengan total 80 kg," tuturnya.

Sementara itu, Tajul salah satu pedagang ayam yang justru merasakan sebaliknya, Ia mengaku mengalami penurunan sangat drastis dalam penjualannya semenjak diberlakukan jam oprasional tersebut.

"Biasanya disiang hari seperti sekarang ini, jualan kami sudah hampir habis. Sekarang justru berkurang jauh dari omzetnya, yang biasanya kita jual Rp 38.000 perkilonya, sekarang malahan menjadi turun jadi Rp 35.000 perkilonya, karena daya belinya berkurang secara drastis," pungkas Tajul.
( D2N )