Titik Panas Di Sejumlah Wilayah Indonesia Kembali Meningkat, BMKG Ingatkan Masyarakat Yang Terdampak

PERISTIWA

Titik Panas Di Sejumlah Wilayah Indonesia Kembali Meningkat, BMKG Ingatkan Masyarakat Yang Terdampak

87 Online News
Selasa, 22 Oktober 2019

JAKARTA - Suhu udara pada siang hari ini di sejumlah daerah di Indonesia masih akan terasa panas hingga beberapa hari ke depan. Hal itu diungkapkan Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono R Prabowo.

"Berdasarkan persebaran suhu panas yang dominan berada di selatan Khatulistiwa, hal ini erat kaitannya dengan gerak semu Matahari," kata Mulyono, di Jakarta, Selasa (22/10/19).

Pihaknya mengingatkan masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini agar minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi serta mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, dan mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla.

Mulyono menuturkan, sejak bulan September lalu, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga Desember 2019. Pada Oktober, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan yaitu Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sebagainya.

"Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga meningkatkan suhu udara pada siang hari," paparnya.

Menurutnya, sepanjang dua hari lalu, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari. Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang berdampak pada meningkatnya suhu udara.

"Beberapa stasiun pengamatan BMKG mencatat suhu udara maksimum dapat mencapai 37 derajat Celcius sejak 19 Oktober lalu," ungkapnya.

Bahkan, lanjut Mulyono, pada tanggal 20 Oktober terdapat tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi yang mencatat suhu maksimum tertinggi yaitu, Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38.8 derajat Celcius, diikuti Stasiun Klimatologi Maros 38.3 derajat Celcius, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37.8 derajat Celcius.

"Tingginya suhu tersebut sebagai catatan tertinggi dalam satu tahun terakhir, dimana pada periode Oktober di tahun 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 derajat Celcius," imbuhnya.

Selain itu, masih kata Mulyono, stasiun - stasiun meteorologi yang berada di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, mencatatkan suhu udara maksimum terukur berkisar antara 35 derajat - 36.5 derajat Celcius pada periode 19-20 Oktober 2019.

"Gerak semu matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya," katanya.

Ia menambahkan, dalam waktu sekitar satu minggu kedepan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia, mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya. (Ctr/red)