IIBF Boyong Ribuan Buku Dari 20 Negara Dan Penerbit Dari Penjuru

IIBF Boyong Ribuan Buku Dari 20 Negara Dan Penerbit Dari Penjuru

87 Online News
Rabu, 04 September 2019

JAKARTA - Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pusat mendorong industri buku di Indonesia agar mampu menjadi hub hak cipta buku di level Asia. Salah satu upayanya dengan menyelenggarakan pameran buku Indonesia International Book Fair (IIBF) 2019 yang ditargetkan dikunjungi sekitar 150.000 orang.

IIBF yang digelar tiap tahunan oleh IKAPI,  tujuannya untuk meningkatkan dunia Literasi, terlebih lagi sudah saatnya Indonesia unjuk gigi kebolehan menjadi tuan rumah dan contoh bagi negara lainnya dalam menyebarkan semangat  membaca, terutama sebagai jalan menuju membuka jendela dunia seluas-luasnya.

Ketua Umum IKAPI, Rosidayati Rozalina  berharap IIBF  bisa menjadi ajang Unjuk Gigi kepada negara lainnya. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers di Arthotel, Jalan Sunda, Jakarta Pusat, Senin (2/9/2019).

"Indonesia jangan hanya jadi tamu yang mempesona di negara lain, tapi juga harus memiliki acara sendiri," ujar Rosidayati.

Indonesia memang  telah menjadi urutan  terbawah dalam minat baca di dunia, dan  juga berulang kali Indonesia juga telah menarik perhatian dalam pemeran buku bertaraf intenational. Mulai dari menjadi guest of honor di Frankfurt Book Fair 2015, country of focus pada Asian Festival of Children's Content 2017 di Singapura, kemudian guest of honor di Kuala Lumpur International Book Fair 2018 hingga menjadi market focus di London Book Fair 2019.

Ia kemudian menambahkan bahwa IIBF kali ini memiliki lebih banyak kegiatan menarik, tidak hanya bagi penjual namun juga pembeli. Hal itu karena IIBF 2019 tidak hanya menjual buku saja, namun juga akan membuka kesempatan dalam promosi dan penjualan Intellectual Property (IP) produk kreatif lainnya.

"IIBF kini tidak lagi hanya menjadi ajang jual-beli buku dan hak cipta buku dari industri penerbitan, melainkan juga menjadi ajang promosi dan penjualan intellectual property (IP) produk non buku dari industri kreatif lainnya," tegas Rosidayati.(D2N)