Lecehkan Awak Media, Panitia CGM Sebut Meliput Menggunakan Kamera Handpone, Wartawan Tidak Jelas

Lecehkan Awak Media, Panitia CGM Sebut Meliput Menggunakan Kamera Handpone, Wartawan Tidak Jelas

87 Online News
Jumat, 01 Maret 2019

KOTA BOGOR - Menanggapi surat klarifikasi yang di kirimkan Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Korwil Kota Bogor, yang dikirimkan kepada Panitia Steet Festival CGM terkait adanya dugaan Diskriminasi terhadap wartawan yang dilakukan oleh oknum panitia CGM pada Selasa 19 Februari 2019 lalu, akhirmya pihak panitia CGM melayangkan surat permohonan maaf kepada wartawan yang bersangkutan dan FPII Korwil Kota Bogor. Kamis (28/2/19).

Selain permohonan maaf, dalam salah satu isi surat itu, Jogi Hutabarat selaku pihak panitia CGM membantah adanya adanya kriminalisasi terhadap wartawan yang dimaksud. Dalam surat itu Jogi menuturkan, pada saat Bogor Street Festival CGM sebagai panitia, dirinya bertanggungjawab apapun yang terjadi di area acara termasuk keselamatan.

"Seperti yang terjadi pada hari pelaksanaan, saya menegur teman media yang meliput event dari 2nd floor duble deck di venue media centre. Karena 2nd floor itu hanya menampung maksimal 40 orang termasuk petugas lighting, pengamanan, dokumentasi video, dan live media sosial dari panitia. Tim media sudah mencoba memperingati, dan meminta tapi tidak diindahkan," tutur Jogi Hutabarat melalui surat yang tidak dibubuhi tandatangani itu.

Lanjut Jogi, dari laporan tersebut untuk pertama kali Ia menegur para wartawan dan berkoordinasi LO media centre. "Koq mereka dari tadi disitu terus?" (dekat tangga naik). Kan 2nd floor ini terbatas 40 orang," ujarnya.

Dalam melakukan teguran tersebut, Jogi mengaku sama sekali tidak mengunakan intimidasi (berkata kasar) dan melakukan tindakan mengarah ke fisik bahkan tidak menyentuh orang atau peralatan yang digunakan oleh wartawan. Kemudian Ia berinisiatif mendatangi wartawan tersebut, dengan menanyakan identitas serta meminta kepada mereka secara baik-baik untuk turun. 

"Namun tidak digubris, sehingga saya datang untuk kedua kalinya dan kembali menanyakan identitas mereka dari media mana sambil meminta untuk turun dan keluar dari 2nd floor media centre sambil mengantar agar bergantian dengan awak media lain. Hal ini ditanggapi dengan ketus oleh wartawan dan pada akhirnya mereka turun dengan kesal," ujarnya.

Kendati demikian, melalui surat itu, Jogi mengakui perkataan yang dilontarkannya yang menyebutkan, Banyak media yang tidak jelas, karena melakukan peliputan hanya menggunakan kamera handphone.

"Saya akui, memang saya berkata "Soalnya banyak media yang tidak jelas, karena melakukan peliputan hanya menggunakan kamera handphone", tandasnya. 

Menanggapi perkataan yang dilontarkannya, dengan menyebutkan bahwa banyak media tidak jelas yang melakukan peliputan hanya menggunakan kamera handphone, Iwan Kusmawan, SH selaku Penasehat Hukum FPII Korwil Kota Bogor nenilai bahwa pernyataan tersebut adalah suatu perbuatan Diskriminasi dan Contempt Of Journalist (pelecehan terhadap awak media), yang notabene menggunakan kamera handphone untuk mengambil ganbar saat meliput.

"Di jaman teknologi yang serba cangih ini, hampir semua melakukan berbagai aktifitas menggunakan handphone. Begitu pun dengan wartawan online, mereka lebih memilih menggunakan camera handphonenya agar lebih cepat dalam mengirim data berita. Kami anggap ini merupakan Diskriminasi (membeda-bedakan) dan pelecehan terhadap profesi wartawan," paparnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta pertanggungjawaban atas ucapan yang dilontarkan Jogi yang telah dianggap melecehkan wartawan itu. Ia menyebutkan, bahwa perkataan tersebut juga akan berdampak dan menuai kritikan para insan pers lainnya, yang notabene melakukan peliputan dengan menggunakan kamera handphone.

"Dia (Jogi) tidak sadar bahwa perkataannya itu, akan jadi polemik atau kritikan dari rekan-rekan wartawan lain yang meliput mengunakan kamera handphone," pungkasnya.


Tim FPII Korwil Kota Bogor