UPDATE

header ads

Sikapi Upah Rendah, SPN Adakan Pertemuan Dengan AFWA

BOGOR - Guna mendiskusikan berbagai isu terkait dengan buruh pabrik yang memproduksi pakaian mahal tetapi mereka mendapatkan upah yang rendah, Serikat Pekerja Nasional (SPN) mengadakan pertemuan dengan Asia Floor Wage Alliance (AFWA) yang bekerjasama dengan aliansi-aliansi lain di Eropa dan Amerika.

Internatinonal Coordinator AFWA, Anannya Bhattacharjee menuturkan, pertemuan yang diselenggarakan selama 2 hari, yakni Sabtu dan Minggu tanggal 4-5 Agustus, bertempat di Cico Resort Bogor ini adalah bagian dari beberapa pertemuan yang telah dilakukan di negara-negara lain yaitu negara-negara yang memproduksi garmen secara internasional.

"Mengapa mereka mendapatkan upah yang rendah?. Yang kami analisa adalah bahwa brand atau merk Internasional atau merk Global itu untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Kita tau brand itu juga membayar ongkos produksinya rendah kepada pabrik-pabrik, sehingga upah untuk buruhnya juga rendah," tuturnya Annanya, kepada Wartawan, didampingi Ashim Rou dan Ketua Umum DPP SPN, Minggu (5/8/18).

Dikatakannya, dari hasil survei brand atau merk-merk seperti Nike, Adidas dan lainnya adalah merk-merk yang mendapatkan keuntungan paling besar dalam bisnis dan industri garment ini.

"Kita bisa katakan mereka mencuri atau mengekploitasi Asia termasuk Indonesia. Ketika buruh berusaha untuk meningkatkan upah, para brand dan pabrik itu juga berusaha untuk mengelak dan pindah ke tempat atau ke negara yang lain," ungkapnya.

Menurutnya, hal ini adalah hal yang tidak adil dan harus dihentikan, mereka harus bertanggung jawab untuk membayarkan upah yang layak kepada buruh. Menuntut kenaikan upah itu tidak bisa dilakukan hanya di satu negara saja, tetapi juga harus dilakukan bersama-sama di negara lain di Asia.

"Jadi kami memperjuangkan agar buruh mendapatkan upah layak, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia. Kita ingin para pemegang merk itu bertanggung jawab harus berkontribusi untuk upah layak," pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Ashim Rou mengatakan, dari hasil survei brand biasanya menyampaikan bahwa mereka membayar upah layak. "Padahal kami sudah membuktikan bahwa mereka tidak memberikan upah layak, tetapi hanya memberikan upah minimum. Itu pun sangat kecil," jelasnya.

Masih Kata Ashim, hal itu menunjukan betapa prihatin kondisi yang dihadapi oleh para buruh. "Jangankan menyumbangkan kontribusi financial bagi negara. Untuk buruh pun tidak bisa memberikan upah yang layak," ujarnya.

Dikatakannya, bahwa 80 % buruh mayoritas adalah kaum perempuan. Dari hasil survei itu, AFWA menunjukan bukti dan isu yang lain yang muncul di industri garmen, yaitu terjadi kekerasan berbasis gendre atau kekerasan terhadap buruh perempuan di tempat kerja.

"Brand tersebut melakukan kekerasan berbasis gendre itu demi keuntungannya.
Mereka juga menghalang halangi pembentukan serikat pekerja di pabrik-pabrik," ujar Ashim Rou.

Ashim memaparkan, berbagai langkah yang telah dilakukan AFWA untuk berbagai permasalahan yang menyangkut buruh diantaranya, melakukan riset panjang yang terkait dengan rantai masukan di industri garment rantai produksinya ditingkat global dan menemukan fakta-fakta upah yang rendah serta kekerasan berbasis genre, kita telah membuktikan brand itu sudah berdusta dengan mengaku mereka telah melakukan tanggung jawabnya dengan baik.

"Mereka mengaku telah melakukan audit, dan tidak ada masalah. Tetapi temuan riset kami menunjukan bahwa itu sebaliknya," paparnya.

Ia menambahkan, beberapa riset yang telah dilakukan AFWA yakni di Indonesia, Kamboja, India, Srilanka, Bangladesh. Selain itu, AFWA juga melakukan pertemuan seperti ini di negara negara lain untuk memahami apa yang terjadi di negara-negara lain juga.

"Kita menyerap, dan belajar apa yang terjadi ditingkat-tingkat lokal dan apa yang kita temukan. Walaupun kita sudah berusaha meningkatkan upah minimum tetapi upah layak itu tidak mudah untuk dicapai. Sekarang upah yang seharusnya diterima oleh buruh itu di kali 3 supaya buruh itu bisa hidup dengan layak," pungkasnya. (Red)

Posting Komentar