Ribuan Umat Islam Datangi Kantor Walikota Bogor -->

Adsense




Ribuan Umat Islam Datangi Kantor Walikota Bogor

87 Online News
Selasa, 29 Agustus 2017

KOTA BOGOR - Ribuan umat Islam dari Bogor, Sukabumi, dan Cianjur melakukan
"Aksi Damai Bogor Utara Tolak Wahabi" di halaman kantor Walikota Bogor, Selasa (29/8/17). Dalam aksi tersebut, massa meminta agar Pemkot Bogor mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Masjid Imam Ahmad bin Hanbal yang terletak di Jalan Ahmad Syam, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, yang disinyalir dijadikan tempat perkumpulan bagi penganut sekte Wahabi.

Sekitar 10.000 massa berangkat dari tiga titik yang ditentukan yaitu dari wilayah Bogor Utara titik kumpul di Makam Raden Kan'an Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, menampung peserta yang berasal dari wilayah Bogor Utara, Cibinong dan Sukaraja.

Titik kumpul massa kedua yaitu di Masjid Raya, Kecamatan Bogor Timur, untuk para jamaah yang berasal dari wilayah Cianjur, Ciawi, dan Sukabumi. Titik kumpul di Empang, Kecamatan Bogor Selatan bagi jamaah berasal dari wilayah Ciapus, Bogor Barat, dan Ciomas.

Menurut Korlap aksi unjuk rasa, H. Dado, tuntutan yang disampaikan ke Walikota Bogor, Bima Arya diantaranya pencabutan IMB Masjid Imam Ahmad bin Hanbal di Jalan Ahmad Syam, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara.

"Apabila tuntutan itu tidak dikabulkan, massa akan menginap di Balaikota atau menuju lokasi pembangunan Masjid Imam Ahmad bin Hanbal di Jalan Ahmad Syam, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, untuk melakukan demo," ungkapnya.

Lanjut Dado mengatakan, dalam aksi damai tidak ada yang melakukan tindakan melanggar hukum. Pihaknya mewaspadai penyusup, terutama dari jamaah masjid Imam Ahmad bin Hanbal yang memperkeruh suasana.

"Kami semua di sini melakukan aksi damai, jangan sampai disebut preman berpeci atau bersorban. Aksi damai ini harus berjalan kondusif, bantu polisi dan TNI menjaga keamanan," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Kapolresta Bogor Kota Kombes Polisi Ulung Sampurna Jaya mengatakan, pihaknya melakukan pengawalan peserta aksi damai dari tiga titik kumpul, meski dengan nama aksi damai pihaknya berjaga dengan pasukan lengkap.

"Kami siapkan tim gabungan TNI dan Polri sebanyak 1000 personil untuk mengawal aksi damai sampai selesai. Jangan sampai aksi damai berujung keributan, tuntutan mereka disampaikan ke Wali Kota Bogor langsung. Terkait IMB urusan keputusan Wali Kota Bogor," tuturnya.

Sementara itu, Dandim 0606/Kota Bogor Letkol Arm. Doddy Suhadiman mengatakan, untuk pengamanan demontrasi tersebut pihaknya mensiagakan 500 personil dari Kodim 0606/Kota Bogor dan Yonif 315/Garuda.

"Saya harap berjalan kondusif aksi demo damai ini," ujarnya.

Dihadapan massa pendemo, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, sesuai peraturan wali kota (Perwali), IMB bisa dicabut atau bisa dibekukan dengan alasan teknis dan alasan sosial.

Dirinya memerintahkan kepada Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bogor untuk mengkaji kedua hal itu, kalau ada kesalahan teknis untuk ditindak, serta jika menimbulkan dampak sosial izin bisa dibekukan.

"Saat dibekukan pihak masjid diberi waktu untuk menjawab, kalau ada kebersamaan bisa saja dilanjutkan. Kalau tidak, ya tidak bisa dilanjut, syarat Pemkot Bogor kalau masjid itu menjadi Masjid Jami bisa dijalankan. Tidak ekslusif lagi, itu baru bisa," kata Bima.

Bima melanjutkan, dirinya merespon keinginan warga dengan pembekuan izin. Tahapan perizinan sudah dilalui, tapi warga belum menolak secara masif dan waktu itu sudah selesai. Namun kemudian berkembang persoalan lain di lapangan.

"Saya akan sampaikan secara terbuka syarat dari Pemkot Bogor. Semua syarat sudah dipenuhi tapi menimbulkan dampak sosial tadi," tegasnya.

Membludaknya massa yang berkumpul di depan Balaikota sempat membuat lalu lintas di Jalan Ir. H Juanda lumpuh hingga akhirnya massa membubarkan diri sekitar pukul 13.00 WIB.

Adapun gelombang penolakan berdirinya Masjid Imam Ahmad bin Hanbal tersebut muncul akibat ketidak setujuan warga sekitar masjid tersebut. Masayarakat menilai faham yang didakwahkan oleh pembina masjid tersebut, Ustadz Jazid Jawas, dinilai bertentangan dengan "faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah" karena mensesatkan dan membid'ahkan faham-faham Islam yang umum dianut oleh masyarakat Indonesia. (IB)