Iklan Baner

Update

Peristiwa

Nasional

Pemerintahan

Pendidikan

Kesehatan

Publikasi

Lifestyle

» » » » » » Publikasi Kinerja Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor 2017

PUBLIKASI KINERJA 
DINAS KETAHANAN PANGAN (DKP) KABUPATEN BOGOR




PROGNOSA KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN PANGAN MENJELANG
HARI BESAR KEAGAMAAN DAN NASIONAL (HBKN)
TAHUN 2017

Secara umum kultur budaya, sebagian besar masyarakat Indonesia dalam menyambut dan merayakan HBKN umumnya mebutuhkan bahan pangan dalam jumlah yang lebih banyak di banding hari-hari biasa, yaitu adanya budaya mudik (Kumpul keluarga), menyuguhkan tamu dengan berbagai makanan dan stok pangan sebagai persediaan setelah HBKN. Kondisi tersebut menyebabkan tidak seimbangnya permintaan masyarakat dengan ketersediaan (Pasokan) yang ada dalam suatu wilayah pada periode tertentu. 

Hal tersebut dapat mengakibatkan fluktuasi harga dan pasokan yang cukup tinggi pada hampir semua komoditas pangan strategis. Menjelang dan setelah pelaksanaan HBKN, Secara umum kondisi harga dan pasokan pangan cenderung berfluktuasi dan meningkat setiap tahunnya. Penyusunan prognosa ketersediaan dan  kebutuhan pangan strategis di Kabupaten Bogor untuk menggambarkan kondisi ketersediaan produksi dan kebutuhan pangan selama periode HBKN yaitu khususnya pada saat Bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2017.

Penyusunan prognosa ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis periode HBKN dilakukan oleh Tim Pembahasan ketersediaan Pangan pada HBKN yang terdiri dari Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan perkebunan, Dinas Perikanan dan Peternakan, PD. Pasar, Bagian Perekonomian, Bappedalitbang, Dinas Perhubungan, BPS dan Bulog sub Drive Cianjur dengan mengumpulkan informasi baik pasokan dan distribusi dari instansi terkait.

Foto: Peninjauan ke salah satu Toko beras  di Pasar Jonggol  dalam rangka HBKN 2017 oleh Sutriana, SP. Kasie Distribusi  dan Harga Pangan

Hasil perhitungan prognosa ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis periode HBKN Ramadhan - Idul Fitri 2017 (Mei-Juni) tabel 2. terlihat bahwa ketersediaan produksi komoditas pangan strategis seperti beras,  daging sapi, daging ayam, telur ayam dan cabe merah cukup dan aman, sedangkan bawang merah merupakan komoditas yang masih jarang dibudidayakan di Kabupaten Bogor. Oleh karena itu pasokan sering didatangkan dari luar Kabupaten Bogor seperti Brebes dan Majalengka dan untuk komoditas gula pasir dan minyak goreng masih defisit. Namun dengan demikian dua komoditas ini masih dapat terpenuhi dari pasokan yang berada di distributor baik agen maupun eceran belum termasuk stok di retail bulan sebelumnya dan pasokan yang berasal dari luar Kabupaten Bogor.
Harga pangan pada periode HBKN (Mei-Juni ) relatif stabil pada beras, sedangkan untuk komoditas bawang merah dan cabe merah harga cenderung mengalami kenaikan namun relatif stabil, untuk daging sapi harga dari Rp. 80.000 – Rp.105.000 tergantung jenis dan kualitas.

Tabel. 1. Prognosa kebutuhan Pangan di Kabupaten Bogor Di  Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri

Bulan
Jenis Pangan Pokok (TON)
Beras
Bawang Merah
Cabe Merah
Daging sapi
Daging Ayam
Telur ayam
Gula Pasir
Minyak Goreng
Mei
15.086
349
880
191
655
922
1.031
1.131
Minggu IV
15.086
349
880
191
655
922
1.031
1.131
Juni
25.144
582
1.466
319
1.092
1.536
1.718
1.886
Minggu IV
12.572
299
733
163
562
768
875
964
Minggu V
12.572
283
733
156
530
768
843
922
Jumlah
40.230
931
2.326
510
1.747
2.458
2.749
3.017
Sumber : Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor Tahun 2017

Tabel. 2. Existing Ketersediaan Pangan di Kabupaten Bogor Di  Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri


Sumber
Jenis Pangan Pokok (TON)
Beras
Bawang Merah
Cabe Merah
Daging sapi
Daging Ayam
Telur ayam
Gula Pasir
Minyak Goreng
CPPD
140
-
-
-
-
-
-
-
TTI
1.123
46
91
-
-
-
91
12
PRODUKSI
80.967
-
2.286
-
-
-
-
-
DISKANAK
-
-
-
2.134
13.166
6.312
-
-
BULOG
1.714
-
-
8
-
-
232
186
JUMLAH
83.944
46
2.377
2.142
13.166
6.312
323
198
Sumber : Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan dan Peternakan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan kabupaten Bogor 2017
Foto : Peninjauan ke salah satu gapoktan penyuplai beras di Kecamatan Tanjung Sari dalam, oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, drh. H. Soetrisno, MM.

UJI KEAMANAN PANGAN DI PASAR CILEUNGSI, PASAR CARIU DAN PASAR CITEUREUP II
Gejolak kenaikan harga sering kali terjadi ketika menghadapi momen tertentu, salah satunya adalah saat menghadapi bulan Ramadhan, padahal hal tersebut menjadi faktor penting dalam perekonomian. Jika terjadi kenaikan harga yang signifikan, dapat mengakibatkan Inflasi yang tak terkendali serta dapat membuat kondisi dan stabilitas ekonomi terganggu. Dengan kondisi tersebut di atas, tidak sedikit para pedagang yang memanfaatkan momen tersebut dengan menjual bahan pangan yang tidak layak konsumsi karena sudah lama dan telah diawetkan dengan zat-zat kimia yang berbahaya seperti Boraks, Formalin, Pestisida, dll.


Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Ketahanan Pangan beserta dengan Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan dan Peternakan serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian melakukan survey pasar dalam rangka pengawasan keamanan pangan di beberapa pasar di wilayah Kabupaten Bogor seperti Pasar Cileungsi dan Pasar Cariu. Pengujian mengenai pengawasan keamanan pangan dilakukan secara random (acak) terhadap pedagang/penjual di pasar tersebut di atas.

Pengujian pangan yang dilakukan oleh Tim yang dibentuk dari beberapa Dinas tersebut di Pasar Cileungsi dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2017 dengan melakukan pengujian boraks terhadap beberapa bahan pangan seperti kikil, ikan teri, ikan asin cucut, kerang, mie kuning, tahu putih, tahu kuning dan tahu coklat. Dari hasil pengujian tersebut didapatkan fakta bahwa pada Mie Kuning (yang biasa digunakan untuk bahan campuran Soto Mie) positif mengandung boraks.


Selain pengujian boraks, dilakukan juga pengujian kadar formalin terhadap beberapa jenis sampel bahan pangan seperti yang dilakukan pada pengujian boraks hanya saja ditambah dengan bahan sampel usus ayam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel Ikan asin Cucut, Tahun Kuning, Tahun Putih, Tahu Coklat, Mie Kuning, Usus ayam dan Kikil positif mengandung zat kimia Formalin dengan kadar yang beragam.

Pengujian juga dilakukan pada sampel terasi, cabe, kunyit dan sosis untuk melihat kandungan Rhodamin dalam bahan pangan tersebut. Hasil yang didapat menunjukkan sampel terasi dan sosis positif mengandung Rhodamin. Pada pengujian lainnya terhadap beberapa sampel bahan pangan seperti Caysin dan Seledri tidak ditemukan (negatif) pestisida, begitu juga pengujian spesies yang dilakukan tidak ditemukan (negatif) pada sampel bakso di salah satu penjual. Pada pengujian klorin ditemukan positif pada sampel kolang kaling sedangkan pada sampel beras tidak ditemukan (negatif). Selain itu, pada saat survey pasar, beberapa sampel ayam ditemukan dalam kondisi yang sudah tidak segar lagi.

Pengujian pangan juga dilakukan di Pasar Cariu pada tanggal 7 Juni 2017. Pengujian yang dilakukan terhadap sampel sama dengan yang dilakukan di pasar Cileungsi. Pada pengujian boraks, sampel yang digunakan adalah Mie kuning, tahu putih, tahu kuning, bakso, ikan Teri, usus, Kerang, ikan asin Cucut, otak-otak orange dan putih. Hasil pengujian yang didapat adalah ditemukannya kadar boraks dalam sampel Mie Kuning. Pada pengujian Formalin, sampel yang digunakan sama dengan pengujian boraks. Beberapa sampel bahan pangan seperti Mie Kuning, Usus Ayam, Kerang, Ikan Cucut dan Otak-Otak Orange positif ditemukan formalin. Sedangkan pada pengujian pestisida dengan menggunakan sampel Caysin dan Seledri, positif ditemukan pada sampel bahan pangan seledri. 


Pengujian lainnya dilakukan pada hari Selasa, 20 Juni 2017 di pasar Citeureup II yang di kelola oleh PD Pasar Tohaga. Survey pasar ini merupakan untuk ketiga kalinya dilakukan selama bulan Ramadhan. Pada pengujiaan Formalin, bahan sampel yang dipakai adalah Tahu Putih, Tahun Kuning, Mie Kuning (Mie Basah),Otak-otak, Ikan Teri, Ikan Cumi, Cincau Hitam, Kikil, Usus dan Kerang. Hasil pengujian menunjukan bahwa pada Mie Kuning terdapat (Positif) mengandung formalin dalam jumlah yang cukup tinggi.

Pada pengujian boraks yang dilakukan pada sampel Usus, Mie Kuning, Tahun Putih, Tahu Kuning dan Ikan Teri menunjukkan hasil positif pada sampel Mie Kuning yang didapat dari pedagang Soto Mie. Sedangkan untuk sampel lainnya menunjukkan hasil yang negatif. Pengujian lainnya yaitu pengujian kandungan Rhodamin B dilakukan pada sampel Jelly, Agar Merah, Kerang dan Terasi menunjukkan hasil positif pada sampel Jelly dan Terasi. Sedangkan pada pengujian pestisida yang dilakukan pada sampel Caysim, Cabe Merah, Tomat, Seledri dan Daun Bawang menunjukkan hasil positif pada sampel Cabe Merah.

Bentuk pengujian lainnya yang dilakukan adalah pengujian kandungan Klorin yang dilakukan pada sampel kolang kaling, beras dan Kikil. Hasil yang cukup mengejutkan didapatkan yaitu, semua sampel positif mengandung Klorin. Pada sampel kolang kaling dan beras kandungannya 0,5 ppm sedangkan pada sampel kikil kandungan yang ditemukan adalah sebesar 3 ppm. Pada pengujian Iodin yang dilakukan pada sampel garam ditemukan (positif) mengandung Iodin. Hal ini mengindikasikan bahwa garam tersebut baik untuk di konsumsi. Pada pengujian spesies yang dilakukan pada sampel Baso, Sosis dan ayam menunjukkan hasil yang negatif. Pada uji kesegaran yang dilakukan pada sampel ayam menunjukkan bahwa ayam tersebut sudah dalam keadaan tidak segar. Hal ini kemungkinan disebabkan ayam yang dijual sudah melebihi 4 jam setelah pemotongan di lakukan dan tidak di simpan dalam freezer.

Dengan di dapatkannya fakta tersebut di atas, dianggap perlu untuk dilakukan sosialisasi kepada masyarakat dan penjual mengenai dampak negatif atau berbahayanya zat-zat kimia seperti boraks, formalin, pestisida, dan yang lainnya. Selain itu perlu dilakukan pendekatan kepada para penjual untuk tidak menggunakan zat-zat kimia berbahaya tersebut dalam pengawetan bahan pangan dan diberikan alternatif lain yang tidak membahayakan bagi kesehatan seperti dengan penggunakan asap cair dalam pengawetan.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh konsumen untuk melihat dan memilih bahan pangan segar yang berada di pasaran adalah sebagai berikut :

1. Ciri-ciri makanan berformalin :
  • Pada daging ayam dan ikan, berwarna putih bersih dan dagingnya kenyal.
  • Pada ikan, insang tidak berwarna merah segar melainkan merah tua.
  • Pada suhu 25 oC, daging dapat bertahan hingga beberapa hari.
  • Tidak ditemukan bau amis khas ikan, melainkan bau menyengat khas formalin.
  • Pada sampel tahu kuning, memiliki bentuk yang bagus dan kenyal dengan tekstur yang sangat halus dan tidak mudah hancur. Selain itu, pada suhu 25 oC tahun dapat bertahan hingga 3 hari sedangkan apabila disimpan dalam pendingin dapat bertahan hingga 2 minggu. Bau yang ditimbulkan cukup menyengat serta aroma khas kedelai sudah tidak begitu terasa lagi.
  • Pada sampel mie kuning, saat disimpan pada suhu 25 oC (suhu kamar) dapat bertahan 2 hari, sedangkan apabila disimpan dalam pendingin (suhu 10 oC) dapat bertahan hingga lebih dari 15 hari. Tekstur mie tampak mengkilat seperti dilumuri minyak, tidak lengket dan sangat kenyal (tidak mudah putus).
2. Ciri-ciri makanan yang mengandung Rhodamin B :
  • Warnanya merah cerah mengkilat dan mencolok dan tidak homogen (ada yang menggumpal).
  • Terdapat rasa pahit dan muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengkonsumsinya.
  • Biasanya terdapat pada saos, kerupuk, agar-agar (jelly), minuman ringan, sirup, jajanan pasar, dan masih banyak lagi lainnya.
3. Ciri-ciri makanan yang mengandung Boraks :
  • Pada sampel bakso, biasanya tekstur lebih kenyal dan apabila digigit akan kembali ke bentuk semula, lebih tahan lama (awet beberapa hari), warnanya tampak lebih putih sedangkan bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian baik di pinggir maupun tengah, memiliki bau yang terasa tidak alami (ada bau lain yang muncul), apabila dilempar ke lantai akan memantul seperti bola bekel.
  • Pada sampel mie basah (mie kuning), teksturnya kenyal, lebih mengkilat, tidak lengket dan tidak mudah putus.
  • Pada snack (misalnya lontong), tekstur sangat kenyal, berasa tajam, sangat gurih dan memberikan rasa getir.
  • Pada sampel kerupuk, teksturnya renyah dan dapat menimbulkan rasa getir.
4. Ciri-ciri sayuran dan buah yang mengandung pestisida:
  • Sebelum dicuci, tercium bau obat pada sayuran atau buah.
  • Warna terlihat lebih kusam dan tidak ditemukan cacat pada daun (mulus) karena ulat atau serangga yang tidak mau memakannya.
  • Untuk menghilangkannya,dapat dilakukan pencucian sayur dan buah dengan menggunakan air mengalir walaupun memang ada jenis pestisida yang tidak mudah hilang dengan pencucian menggunakan air mengalir saja. (DKP2017/RED)

About 87 Online News

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply