Breaking News

Bocah Penderita Gizi Buruk Di Kecamatan Rumpin Akhirnya Meninggal

PARUNGPANJANG – Rosidi (9) penderita gizi buruk yang tinggal di Kampung Pasir Bereum RT 03/04 Desa Jagabaya Kecamatan Parungpanjang, Kamis (8/6) malam ini menghembuskan nafas terakhirnya. Anak umur 9 tahun yang sebelumnya mengalami gizi buruk, ternyata diketahui juga memiliki penyakit lainnya, yakni TB Paru.

Sekretaris Kecamatan Parungpanjang, Icang Aliyudin menuturkan, almarhum sebelumnya telah mendapatkan penanganan dari pihak desa, Kecamatan hingga Puskesmas. Bahkan secara rutin Puskemas memberikan tambahan makanan dari dokter khusus. Beberapa waktu lalu, juga telah mendapat penanganan dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor dalam rangka meberikan bantuan berupa susu dan makanan untuk balita semenjak Rosidi di vonis gizi buruk.

"Ternyata di dalamnya itu bukan hanya menderita gizi buruk, tetapi termasuk TB Paru, akibat dari kecil lingkungannya kurang sehat," ujar Sekcam Parung Panjang, Jumat (9/6/17).

Menurutnya, sejak awal pihaknya telah mengetahui ada seorang anak penderita gizi buruk di Desa Jagabaya, karena memang Kepala Desanya telah menginformasikan ke Kecamatan sejak jauh-jauh hari.

"Namun memang telah takdirnya tidak berumur panjang, saya selaku pribadi serta mewakili Pemerintah Kecamatan Parungpanjang turut bela sungkawa atas wafatnya Rosidi," ungkapnya.

Sementara itu, orang tua tiri almarhum, Intan Susanti mengatakan, sejak usia tiga tahun korban diurus olehnya hingga ajal menjemputnya di usia sembilan tahun. Sejak divonis menderita gizi buruk, ia secara rutin melakukan pengobatan untuk almarhum. Bahkan saat diperiksakan ke Puskesmas ternyata korban memiliki penyakit dalam juga, yakni TB Paru.

"Awalnya memang gizi buruk, tapi setelah diperiksa ternyata ada penyakit Paru nya juga, saya sangat merasa kehilangan anak saya," ujarnya.

Ia mengaku sangat kehilangan almarhum karena sudah hampir empat tahun mengurusnya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, almarhum tidak dalam kondisi sakit. Pada malam harinya dia menangis entah kenapa. Sekitar pukul 11.00 WIB almarhum bangun lalu disuapi makanan olehnya.

"Saya cek ternyata dia panas, tapi panas yang biasa akhirnya saya kasih obat, dan Alhamdulilah panasnya turun," tuturnya.

Kemudian, lanjutnya, sekitar pukul 15.00 WIB, almarhum menangis dan tidak mau makan. Itu terjadi karena panas suhu tubuhnya kembali naik. Dirumah tidak ada anak laki-laki lagi karena semua sedang bekerja. Tidak lama setelah itu, almarhum menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 18.00 WIB.

"Alhamdulilah dari pihak desa dan kecamatan langsung datang kerumah untuk melayat almarhum," pungkasnya. (Mulya Diva)