Breaking News

Ciptakan Lapangan Pekerjaan, Pemuda Desa Putat Nutug Kembangkan Kerajinan Dari Bambu

BOGOR || 87OnlineNews
Sulitnya lapangan pekerjaan membuat sejumlah para pemuda Kampung Putat Nutug RT 02/02 Desa Putat Nutug Kecamatan Ciseeng melakukan langkah inovasi melalui pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar bambu yang diberi nama Komunitas Bambu Kreatif (Kobak) di bawah gubug bambu tengah sawah.

Pemilik usaha kerajinan bambu Nurdiansyah mengatakan, kegiatan yang saat ini ia geluti merupakan hobi dalam pembuatan asesoris berbahan dasar bambu. Kemudian ia mencoba mengajak kerabat-kerabatnya untuk belajar dan mengembangkan kreatifitas tersebut. 

"Awalnya cuma bikin tas kecil untuk membawa barang, seperti handphone, itu pun buat saya pakai sendiri. Tapi lama kelamaan coba untuk ajak temen-temen yang memiliki potensi untuk sama-sama mengembangkan kreativitas ini dengan modal swadaya," terangnya, kepada Wira Desa, beberapa waktu lalu.

Dari hobi tersebut, lanjutnya, kemudian semakin termotivasi dan terinspirasi untuk terus menggeluti kreasi ini agar dapat membuka lapangam pekerjaan baru untuk pemuda desa Putat Nutug, khususnya di Kampung Putat Nutug.

 "Saya terinspirasi dari internet dan sepertinya hal ini bisa dikembangkan untuk dipasarkan," tuturnya.

Semua kerajinan tersebut, tambahnya, berbahan dasar bambu. Bambu yang digunakan terdiri dari tiga jenis, yaitu bambu hitam, andong dan tali. Produk yang dihasilkan seperti kotak tissue, tempat lampu, kapal layar, mobil-mobilan, cangkir, tas dan pelindung handphone. 

"Jika ketiga jenis bambu tersebut mulai sulit dicari maka untuk produksi kami akan dikurangi," bebernya.

Saat ini pekerja sebanyak lima orang dan bayaran untuk mereka masih tergantung dari banyaknya produksi yang terjual. Jika permintaan sedang berkurang, maka bayaran untuk mereka pun sedikit. Rata-rata produk yang dijual mulai kisaran harga Rp 20 ribu hingga Rp 200 ribu. 

"Sebagian pendapatan itu dibagikan kepada lima orang teman saya, sebagian lagi kita tabung untuk pengembangan selanjutnya," tukasnya.

Sementara itu, salah seorang pekerja Kobak Asep Parijul (21) berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan pemuda-pemuda kreatif. Karena banyak masyarakat yang berfikiran negatif jika melihat pemuda berkumpul seperti yang mereka lakukan. 

"Stigma masyarakat kan sudah jelek jika melihat pemuda kumpul-kumpul, padahal kenyataannya tidak demikian," pungkasnya. (MD)