Palang Pintu Perlintasan KA Selama 12 Tahun Terbuat Dari Bambu -->

Adsense




Palang Pintu Perlintasan KA Selama 12 Tahun Terbuat Dari Bambu

87 Online News
Rabu, 04 Januari 2017

PARUNG PANJANG - Palang pintu perlintasan kereta api di Jalan Kebasiran, Desa Kebasiran, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor Jawa Barat membahayakan pengguna jalan yang melintas.

Pasalnya, palang pintu perlintasan tersebut hanya terbuat dari bambu yang diikat tali plastik. Sehingga setiap ada kereta api yang melintas, penutupan dilakukan secara manual dengan mengandalkan kehwlian petugas jaga.

Menurut Sukardi (29) penjaga palang pintu menuturkan, kondisi ini berlangsung sudah 12 tahun dan hingga saat ini tidak ada perhatian baik dari Dinas Perhubugan mau pun pihak PT.KAI. Sedangkan volume lalu lintas kendaraan roda dua dan roda empat di jalur ini cukup ramai. Terlebih waktu kereta api yang melintas cukup padat hampir setiap 15 menit sekali.

"Banyak anak - anak pulang pergi ke sekolah dan orang tua setiap harinya melintas untuk melakukan berbagai aktivitas dengan di hantui rasa ke khawatiran,"jelasnya.

Menurutnya, jalur perlintasan kereta api tersebut merupakan satu-satunya akses yang digunakan warga ketika hilir mudik antar desa dan kecamatan, bahkan menuju Kota Tanggerang. Untuk meminimalisir angka kecelakaan, warga berharap kepada pihak terkait untuk membuatkan palang pintu otomatis seperti halnya palang pintu perlintasan KA lain pada umumnya.

"Hal ini butuh perhatian dari Pemkab Bogor, ruas jalan raya kebasiran ini yang setiap hari dipergunakan warga untuk keperluan administrasi ke Kantor Kecamatan Parung Panjang. Dengan adanya jalur perlintasan kereta api masuk daerah operasi satu Jabodetabek, tentunya harus lebih diperhatikan lagi keselamatan warga,"ujarnya.

Senada diungkapkan Odih Syaputra (32), warga Kampung Binong RT 001 RW 004 Desa Cikuda. Dirinya berharap kepada pihak terkait agar segera mengganti palang bambu tersebut dengan palang pintu otomatis.

"Harapan saya sebagai warga Kecamatan Parung panjang, agar pemerintah segara membuatkan palang otomatis. Karna saya juga seorang pengajar tentu sangat khwatir bagi keselamatan anak-anak yan menyebrang," kata Odih yang juga salah satu guru madrasah kepada wartawan, Selasa (3/1/17).

Saat dikonfirmasi, Wahyudin Kepala Stasiun Parung Panjang, mengakui bahwa keberadaan protal yang terbuat dari bambu itu sangat mengkhwatirkan bagi pengguna jalan. Dia mengaku sudah mengajukan ke pihak Muspika Kecamatan Parung Panjang, namun sampai saat ini belum ada realisasinya.

"Perlu digaris bawahi, yang poin pertama bahwa perlintasan itu tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Bogor, soalnya dulu jalan itu hanya jalan setapak. saya harap segera di tindak lanjuti oleh pemerintah dan jangan di anggap sepele," ujarnya.

Terpisah, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Transportasi Jabodetabek pada Kementerian Perhubungan, Suharto mengatakan hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Bogor melalui dinas perhubungan. "Memang betul, itu kewenangannya ada di Pemkab Bogor melalui Dina Perhubungan,"kata Suharto, saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya. (Ozos/Ibra)