Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Minta Tempat Prostitusi Gang Semen Diberangus -->

Adsense




Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Minta Tempat Prostitusi Gang Semen Diberangus

87 Online News
Senin, 09 Januari 2017

BOGOR - Bisnis esek-esek di kawasan Puncak Bogor kian hari makin memperihatinkan, lantaran prostitusi yang secara terang-terangan di wilayah tersebut dari dulu hingga kini terus menjamur. Seperti bisnis lendir yang terkenal di daerah 'Gang Semen' berlokasi di Kampung Cibogo II RT 02/03 Desa Cipayung, Megamendung, Kabupaten Bogor, meskipun sudah pernah diberanguskan oleh Satuan penegak Perda namun kini kembali bergeliat.

Keberadaan lokalisasi tersebut tercatat sudah beroperasi selama 43 tahun, sejak era 1961. Mulanya, praktek mesum di kawasan ini berlangsung terbuka dan berada di dalam mobil di sepanjang jalan raya Puncak, Cisarua, Bogor, oleh beberapa wanita penghibur dalam melayani sopir-sopir malam yang istirahat melintasi wilayah berhawa sejuk itu.

Pada saat pariwisata di kawasan puncak sedang dikembangkan. Peluang ini dimanfaatkan sejumlah keluarga dengan membuka tempat pelacuran yang dikelola secara turun temurun hingga kini dikenal dengan istilah kompleks pelacuran Gang Semen.

Bisnis pelacuran ini mengalami perkembangan yang pesat sampai menjadi lahan bagi warga sekitar dengan memanfaatkan keberadaan dan keramaian komplek pelacuran Gang Semen untuk bekerja atau berusaha bisnis haram itu.

Sebelum dikenal sebagai lokalisasi prostitusi terselubung, Gang Semen pernah juga dikenal sebagai kawasan perdagangan. Seiring perjalanan waktu, tamu-tamu yang singgah di kawasan ini kerap mencari teman perempuan hanya sekedar melampiaskan hawa nafsu sesaat.

Dari berbagai sumber yang dikonfirmasi, tarif kencan di lokasi ini untuk short time  Rp 250.000, dan long Time Rp 500.000 sampai jutaan rupiah. Untuk yang terakhir bisa dibawa keluar lokasi dari areal tempat mereka mangkal.

Perdagangan semen merah yang pernah beken lambat laun tak terdengar. Gang Semen malah beken dengan penjaja seks komersilnya.

"Dulu pabrik semen memang ada di sini. Makanya disebut Gang Semen (GS). Tapi sekarang, lebih dikenal tempatnya mangkal para PSK," terang Ucu, warga sekitar, Minggu (08/1/2017).

Cucu menambahkan, kawasan ini pernah menjadi lokasi paling beken lantaran aktifitas prostitusinya. Kebanyakan pelanggan tak hanya warga sekitar, terdapat pula pelanggan asal mancanegara yang ingin mencicipi wisata prostitusi di Gang Semen seperti imigran dari timur tengah.

"Pelanggan kami bukan cuma orang sini (lokal), tapi bule juga ada. Biasanya pas hari libur, Sabtu-Minggu," beber PSK yang enggan dikutip namanya.

Meski ramai oleh aktifitas mesum, pada 2009 silam lokalisasi ini pernah dirazia dan terjadi pembongkaran besar-besaran oleh Satpol PP Kabupaten Bogor. Namun kini, bisnis tersebut kembali tumbuh subur bahkan program Nongol Babat (Nobat) pemerintah Kabupaten Bogor tak begitu berjalan signifikan untuk memberantas tempat-tempat maksiat baik yang terselubung atau terang-terangan seperti halnya kali ini.

Selain itu, upaya penegakan aturan perda itu rupanya tak membuat ciut nyali dan jera para pelaku bisnis lendir tersebut. Mereka kebanyakan berpindah lokasi ke Pasar Ciawi, dan sekitar Gadog, Bogor.

Pada Januari 2016 lalu, geliat kawasan Gang Semen kembali terlihat. Namun, untuk mengelabui petugas Satpol PP, mereka mengemas dan mengirimkan para PSK ke pelanggan dengan cara delivery order alias pesan antar. Sejumlah pelanggan kerap memesan para PSK melalui penjaga hotel melati yang berserakan di kawasan Puncak.

"Saat ini, sistem pesan antar masih berjalan, meski di GS sudah beroperasi lagi," ungkap Mawar, salah satu PSK yang tak mau dikutip identitasnya.

Tak hanya lewat sistem delivery order, para germo diduga memasarkan PSK lewat jejaring media sosial. Di facebook, misalnya, terdapat akun Gang Semen (GS) yang memiliki pengikut sebanyak 342 orang.

Menanggapi kondisi itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Wasto Sumarno meminta agar Satpol PP segera merazia dan membongkar habis bisnis lendir di kawasan tersebut, dikarenakan tak sesuai dengan norma-norma dan moral.

"Ini jelas melanggar ketertiban. Segera bongkar agar tak makin parah serta bertumbuh pesat," tegas politisi PKS dalam pesan singkatnya.

Sementara itu, MM (inisial,red) salah satu pengelola bisnis lendir mengakui dirinya mengelola bisnis haram tersebut sudah puluhan tahun. Bahkan ia juga mengakui para wanita penjaja seks tersebut berasal dari Sukabumi, Cianjur dan wilayah lokal atau warga setempat.

"Tapi berbeda dengan tahun-tahun sebelum dibongkarnya tempat prostitusi kami dulu, jadi kalau dulu karyawan kami atau para wanita penjajah seks itu kebanyakan warga dari luar Bogor. Diantaranya, Subang, Tasik, Cirebon dan Indramayu, tukasnya belum lama ini. (Sah)