Angkat Berita Himbauan Menpora Kepada PB PON Jabar, Wartawan Tribun Jabar Dapat Intimidasi -->

Adsense




Angkat Berita Himbauan Menpora Kepada PB PON Jabar, Wartawan Tribun Jabar Dapat Intimidasi

87 Online News
Rabu, 21 September 2016

BANDUNG - Aksi intimidasi terhadap jurnalis. Kali ini dialami wartawan harian Tribun Jabar dan tribunnews.com, Moh Zezen Zaenal M yang keseharian melakukan kegiatan peliputan di desk Pemporov Jabar atau Gedung Sate.

Menurutnya, kejadian ini bermula saat dirinya membuat berita pada hari Jumat (16/9) dan tayang pada koran cetak Tribun Jabar edisi Sabtu (17/9) dan menjadi head line (HL) Tribun Jabar hal 1 dengan judul "Menpora Ingatkan PB PON". Hati-hati Penggunaan Dana. Jangan Sampai Kasus PON Riau Terulang.  

"Pada Sabtu (17/9) siang sekitar pukul 10.59 Wib saya menerima pesan singkat (SMS) dari seseorang dengan nomor yang tidak saya kenal (Mr A). Dalam SMS itu, dia menanyakan keberadaan saya, seperti seorang yang akrab dengan saya. Lalu beberapa menit kemudian nomor tersebut menelpon ke nomor saya, tapi tidak terangkat karena ponsel saya sedang dicas. Ketika melihat ada panggilan tak terjawab dan SMS, saya berinisiatif menelpon nomor bersangkutan namun tidak dijawab,"ungkapnya melalui pesan yang disampaikan yang diterima redaksi Wira Desa (20/09).

Tak berselang lama lanjutnya, nomor itu kemudian mengirim beberapa SMS ancaman dan memintanya tidak lagi memberitakan hal-hal sensitif tentang PB PON seperti penggunaan dana, dan Lain-lain.  Dia si pemilik ponsel juga melontarkan baberapa fitnah. (Nomor dan bukti sms masih di simpan).

"Pada pukul 14.26 WIB di hari yang sama, saya juga mendapat SMS dari nomor lain. Dia memperkenalkan diri sebagai Mr X (orang yang berbeda dengan nonor ygan menghubungi saya pertama). Dia mengaku sebagai anggota LSM. Dia meminta saya mengangkat telepon. Pukul 14.37 Mr X tersebut menelpon saya. Saya angkat. Dalam perbincangan tersebut dia menyatakan keberatannya dangan berita yang saya buat yang tayang pada hari Sabtu itu. Dia meminta saya untuk bertemu dengan dia dan teman-temannya yang menurut dia tersinggung dengan berita yang saya buat. Dia juga mengancam akan mendatangi saya. Dia mengaku sudah tahu tempat tinggal saya. Dia bahkan mengancam akan membuat saya kapok bila masih terus membuat berita-berita yang mengkritisi PB PON,"urai Moh Zezen menceritakan.

Zezen mengatakan, Dia dan beberapa orang yang berada di belakangnya (terdengar melakui suara d telepon) mengancam akan menghabisi saya dan karir saya di Tribun Jabar maupun desk tempat saya bertugas sekarang di Pemprov Jabar. Pukul 15.32 kembali masuk panggilan dari nomor berbeda lagi. Orang yang menelpon ini mengaku sebagai Mr Y dari sebuah ormas. Singkatnya, dalam perbincangan itu Mr Y yang mengaku bersama Mr X dan Mr A kembali menegaskan dan meminta dirinya untuk menghentikan pemberitaan-pemberitaan yang mengkritisi PB PON apalagi menulis hal-hal sensitif, ancaman pun kembali dilontarkan. 

"Sebagai seorang jurnalis yang memahami aturan dan kode etik jurnalistik, saya menyarankan kepada mereka dan pihak-pihak yang berkeberatan yang mereka klaim untuk menyampaikan hak jawab mereka kepada redaksi Tribun Jabar. Sebab berita yang sudah tayang, menjadi tangung jawab redaksi. Namun mereka malah mengancam bila diminta datang ke Kantor tribun Jabar, maka mereka mengaku tidak menjamin bila datang dengan kekerasan dan tidak baik-baik. Saya pun dalam beberapa perbincangan dengan 3 orang berbeda itu, sempat menanyakan mengapa mereka keberatan. Karena saya tidak merasa memberitakan mengenai ormas atau LSM mereka. Yang saya beritakan hanya berita normatif mengenai warning dari Kemenpora kepada PB PON agar hati-hati menggunakan dana PON sehingga kasus PON Riau tidak terulang di PON Jabar. Ancaman baru berhenti sekitar pukul 16.30 setelah saya mematikan ponsel saya," ucapnya.

Keesokan harinya kata Zezen,  yakni pada Minggu (18/9) dan Senin (19/9) SMS dan telepon semua mereda, dirinya sempat menganggap berbagai ancaman yang dilontarkan hanya sebatas presure atau gertakan. Namun pada Selasa (20/9) ini sekitar pukul 10.30 dirinya mendapat kabar dari istrinya bahwa ada dua orang pria berbadan tinggi dan bertato mendatangi tempat tinggalnya di daerah Soreang Kabupaten Bandung.

"Dua orang yang penampilannya mirip preman itu (menurut istri saya) mengintimidasi istri saya yang sedang seorang diri berada di rumah, mereka menanyakan keberadaan saya dan menanyakan kapan saya pulang dan berada di rumah. Akibat intimidasi dan ancaman yang dilontarkan kepada istri saya tersebut, istri saya mengalami trauma berat sampe gemeteran saat saya telepon. Dia menceritakan kejadian yang dialaminya kepada saya sambil nangis dan gemeteran. Saya menilai kejadian ancaman dan intimidasi ini sudah keterlaluan dan sangat berlebihan karena sudah menyentuh dan menimpa keluarga saya,"tuturnya.

Karena sudah mengarah kepada tindakan pidana ungkap Zezen, dirinya dengan didukung penuh Redaksi Tribun Jabar akan melaporkan kejadian ancaman dan intimidasi yang dirinya dan keluarganya alami ini ke pihak kepolisian (Polda Jabar dan Polres Bandung) karena sudah mengancam jiwa dan mengusik ketenangan hidupnya. Pihaknya mengecam tindakan premanisme yang di lakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab ini, apalagi kebebasan pers diatur dan dilindugi oleh undang-undang.

"Bahkan akibat rasa trauma dan ketakutan luar biasa yang dialami istri saya, saya terpaksa harus mengungsikan keluarga saya ke tempat yang aman untuk waktu yang lamanya tidak ditentukan agar bisa kembali memulihkan trauma yang keluarga saya alami. Saat ini saya dan Tribun Jabar tengah mempersiapkan laporan,"pungkanya. (SUM) #SavePers