PEMKAB SUKABUMI LAKUKAN SIDANG ISBAT PENETAPAN 1 SYAWAL 1437 H

Sukabumi- Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Kementrian Agama Kab Sukabumi Melaksanakan sidang itsbat awal Syawal , Senin (4/7/2016) bertempat di Pusat Observasi Bulan Cidadap Kec Simpenan. 

Sesuai fatwa Nomor 2 tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah., Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggunakan metode penghitungan astronomi (hisab) dan melihat bulan atau rukyat dalam menetapkan 1 Syawal atau Idul Fitri 1437 Hijriah/2016 Masehi. Fatwa tersebut menyebutkan penetapan awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijah dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyat oleh pemerintah lewat Menteri Agama dan berlaku secara nasional.  

Sidang yang akan dimulai pada pukul 17.00 WIB diawali pemaparan posisi hilal secara astronomis pada 29 Ramadhan 1437 H/2016 H oleh Tim Penyelenggara Syariah kementrian Agama Kab Sukabumi. 

Ketua bidang penyelenggara Sayriah Maman Hidayat ,M.ag., M.Si dalam laporannya mengatakan Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. 

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). 

Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1. Namun, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat."

Dalam kesempatan yang sama Bupati Sukabumi H.Marwan Hamami mengatakan Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat.

Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994.Pada tahun 2011 juga terjadi perbedaan yang menarik. Dalam kalender resmi Indonesia sudah tercetak bahwa awal Syawal adalah 30 Agustus 2011. Tetapi sidang isbat memutuskan awal Syawal berubah menjadi 31 Agustus 2011. 

Sementara itu, Muhammadiyah tetap pada pendirian semula awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Hal yang sama terjadi pada tahun 2012, dimana awal bulan Ramadhan ditetapkan Muhammadiyah tanggal 20 Juli 2012, sedangkan sidang isbat menentukan awal bulan Ramadhan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012. 

Namun, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan, pungkasnya. ( Dede R )

Posting Komentar

0 Komentar