APDESI KECAMATAN NAGRAK, HIDUPKAN TANAMAN PADI JIKA SALURAN IRIGASI DI BENAHI

SUKABUMI - Ketua APDESI Kecamatan Nagrak, Tutang Sutiawan  mengeluhkan pasokan air untuk lahan pertanian. Pasalnya tidak sedikit dari petani yang asalnya bercocok tanam padi, sekarang beralih dengan garapan tani lain, seperti Singkong, pepaya, jagung dan lain sebagainya.

Hal tersebut dikarenakan ribuan hektare sawah diempat desa wilayah Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi terkendala minimnya pasokan air lantaran saluran irigasi atau penertiban penyaluran air tidak berfungsi. Akibatnya, saluran ladang pertanian khususnya pesawahan kekurangan pasokan air. Keluhan tersebut sudah dirasakan para petani sekitar 26 silam.

Menurut pengakuan Tutang,"Sekitar 1500 hektare sawah diempat desa yaitu Desa Balekambang, Desa Nagrak Selatan, Desa Cisarua dan Desa Nagrak Utara Kecamatan Nagrak ini mengeluhkan kekurangan air," ujarnya saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (19/7/16).

Sebenarnya kami sangat mengharapkan bercocok tanam padi lagi, tetapi dikarenakan sarana pengairan yang kurang, maka kami beralih bertani tanaman lain. Padahal, lanjut Tutang, pada tahun 1970 pengairan sawah ini masih normal dan bisa mengaliri ribuan hektar sawah diempat desa tersebut, akibat faktor alam dan kondisi linkungan yang sudah berubah pasokan air untuk mengaliri sawah para petani dirasakan sangat sulit.

Walaupun ada sumber mata air , akan tetapi tidak dapat mengairi kelokasi petani. Bahkan, saat ini tidak sedikit dari lahan sawah yang beralih fungsi menjadi tanah darat. "Sumber air sebetulnya masih ada lokasinya di Desa Cihanyawar, tepatnya di kaki gunung gede pangrango. Dalam hal ini tinggal bagaimana Pemerintah Daerah bisa mengoptimalisasi penyaluran air dan perbaikan irigasi," terangnya.

Masih kata Tutang,  pihaknya pernah mengajukan bantuan kepada Pemerintah Daerah untuk menghidupkan kembali lahan pertanian padi (sawah) di Kecamatan Nagrak, akan tetapi hingga saat ini belum ada tanggapan serius. "Irigasi atau penyaluran air ini bisa segera dibangun jika memang ada diwewenang desa. Namun, permasalahannya kan ini tanggungjawab Pemda," tegasnya.

Sementara itu petani penggarap lahan sawah Somad (55) membenarkan jika dirinya dan para petani kesulitan aliran air, hingga saat ini para petani hanya menggunakan air hujan atau sistem tadah hujan. Bisa menggarap sawah saat musim hujan saja. Sedangkan musim kemarau ini beralih cocok tanam tanaman lain seperti sayuran. Keluhan ini  sudah lama kami rasakan. Dalam rangka peningkatan swasembada pangan kami para petani padi meminta agar Pemda Kabupaten Sukabumi segera mengadakan pemantauan dan mencari solusi terbaik. "Kami mengharapkan agar segera ada bantuan untuk pembangunan irigasi dan sangat membutuhkan normalisasi penyaluran air ini supaya para petani penggarap lahan sawah bisa menanam padi lagi seperti dulu," ungkapnya. (Dede R)

Posting Komentar

0 Komentar